One Day Trip To Sawarna Selama Dua Hari – Solo Touring – Part 1 – Tangerang to Sawarna

15 10 2011

Setelah mempersiapkan Python my Meggy untuk perjalanan jauh dan dipastikan bahwa perjalanan kali ini akan dilakukan sendirian atau solo touring maka selanjutnya adalah penentuan waktu keberangkatan, barang yang hendak dibawa serta rute yang akan diambil

Waktu keberangkatan ditetapkan hari Sabtu tanggal 8 Oktober 2011 pukul 03.00 pagi dengan target kembali ke rumah sekitar pukul 10.00 malam.

Karena rencana perjalanan ini adalah one day trip dan barang bawaan hanya secukupnya, maka diriku tidak memasang side box namun mempergunakan rangsel. Barang bawaan yang dibawa adalah :

Keperluan safety riding :
Helm half face, penutup hidung, knee & elbow protector, pelindung dada, sepatu gunung

Keperluan Biker :
Rangsel, tas pinggang, jaket kulit, 1 set cadangan baju dan celana serta dalamannya untuk antisipasi bila perlu salin, jaket hujan, handuk kecil, sandal, kaus kaki cadangan, saputangan, matras gunung

Keperluan dokumentasi :
Kamera saku, handycam, tripod, beserta keseluruhan chargernya dan buku catatan kecil

Keperluan Navigasi dan komunikasi :
Handphone, GPS beserta keseluruhan chargernya
Laptop akhirnya tidak dibawa, karena ini one day trip maka cerita perjalanan kali ini akan ditulis sepulangnya dari perjalanan dan mengandalkan buku catatan untuk menulis hal-hal yang perlu diingat selama perjalanan

Konsumsi selama perjalanan :
5 buah jeruk valencia lengkap dengan pisau untuk ngupasnya serta satu botol P*****i S***t, direncanakan makan siang di Pelabuhan Ratu dan makan malam di daerah Serpong sebelum nyampe ke rumah agar bisa langsung istirahat

Sepulang ngantor seluruh kebutuhan disiapkan dan dimasukkan rangsel. Nyalakan komputer buka google maps untuk cari rute dan tujuan. Didapat rekomendasi rute dari google maps, zoom tempat tujuan akhir dan antara serta dicatat.

Mendapatkan tempat tujuan kucoba cari di GPS, pertama kupergunakan sistem navigasi Navitel..tempat tujuan tidak diperoleh..ganti sistem navigasi IGO … ternyata semua tempat tujuan ada..jadi kuputuskan mempergunakan sistem navigasi IGO untuk GPS dan mengeset tujuan pada GPS

Hasil dari tujuan yang diset kucoba menu simulasi navigasi dan dibandingkan dengan google maps, ternyata ada perbedaan rute antar google maps dan GPS.

Google Maps mengarahkan selepas kota Bogor maka rute melalui Ciawi terus ke Cibadak belok ke Cikidang, sedangkan GPS selepas kota Bogor melalui Ciawi lalu menuju Parakan Salak langsung ke Cikidang tanpa lewat Cibadak

karena perjalanan kali ini salah satunya adalah menguji GPS dan rute yang ditawarkan oleh GPS membuat penasaran maka kuputuskan untuk mengikuti rute GPS

Setelah memasukkan tujuan, GPS langsung dipasang di speedo meter Python dan charger disambung ke lighter yang sudah terpasang

Persiapan selesai sekitar jam 10 malam, setelah dirasakan semua cukup maka set alarm pada pukul 02.30 pagi agar dapat berangkat pukul 3.00 pagi…langsung tidur…

… Terbangun pukul 02.30 karena bunyi alarm, diriku langsung bangun dan memastikan kembali perlengkapan lengkap.. ternyata keberangkatan mundur menjadi pukul 4 pagi karena ada beberapa hal kecil yang harus disiapkan seperti persiapan diri..pemasangan protector, check GPS telah di set tujuan dengan benar tidak lupa ngopi dulu hasil seduhan isteri tersayang serta manasin Python..mandi??..nggak ah entar aja di toilet umum di SPBU kalau sudah agak terang..sekarang cukup cuci muka aja biar agak seger..

Pukul 4 pagi kurang dikit, mulailah perjalanan ke Sawarna..keadaan masih gelap..dari komplek keluar jalan Serpong ambil arah Gunung Sindur lewat Ciseeng keluar jalan Parung..kondisi lalu lintas saat itu sepi n lancar dengan kondisi jalan bagus..di daerah Puspitek Serpong ternyata ada motor yang terus mengikuti dari belakang..dari cara belok, ngekor dan setelannya sich model touring juga..akhirnya kubiarkan terus mengikuti..toch jadi ada teman..solo touring terbukti nggak bakalan benar-benar solo touring pasti ada teman di sepanjang perjalanan..biker brotherhood will always exist..

Memasuki jalan Parung teringat ada sebuah minimarket yang menyediakan kursi dan meja yang dapat kupergunakan untuk sekedar ngopi dulu, maka kuarahkan ke minimarket tersebut, biker yang mengikuti ternyata melanjutkan perjalanan..klakson saling menyahut diantara kami sebagai tanda perpisahan..

Sewaktu menikmati kopi hangat, datang dua orang ber sepeda motor..ternyata mempunyai tujuan yang sama yaitu sekedar mampir ngopi..sedikit basa-basi percakapan awal dari menyapa dan menanyakan tujuan..akhirnya kami ngobrol.. tidak lupa minta tolong diphoto lewat BB untuk dikirim ke Group sebagai barang bukti bahwa diriku lagi melakukan perjalanan dan photo bersama untuk dokumentasi perjalanan dengan mempergunakan tripod dan kamera saku yang di set otomatis..obrolan berjalan akrab diantara kami, ternyata mereka adalah okamsi (orang kampung situ) yang telah begadang namun sering pergi ke Sukabumi..setelah mereka tahu tujuan perjalananku mereka menyarankan untuk mengambil rute Cigombong karena sepi dan jalurnya enak untuk bersepeda motor..ku teringat ternyata rute yang disarankan sama dengan rute yang direkomendasikan oleh GPS..setelah tidak berapa lama akhirnya kami berpisah..sekali lagi..solo touring tidak pernah benar-benar sendirian..

Diriku kembali melanjutkan perjalanan, kali ini adalah tujuan Bogor ke Cigombong dan GPS sebagai panduan arah..Perjalanan lancar menuju kota Bogor..sedikit tersendar sewaktu melewati pasar Merdeka dan pasar di Jalan Pahlawan Bogor..GPS terus menuntun diriku ke arah Palasari-Cipicung

Daerah Palasari menuju Cipicung jalanan menanjak dan berkelok, kondisi jalan mulus walau ada di beberapa ruas sedang ada pekerjaan galian jalan..Angkutan umum terlihat namun tidak terlalu banyak..perjalanan lancar terus berlanjut hingga jalan Cipelang dengan kelokan-kelokan kecil..lumayan buat latihan nanti di Cikidang yang berdasarkan informasi yang kuperoleh mempunyai tikungan dan tanjakan serta turunan tajam..Perjalanan diteruskan ke jalan Pasir Munjul saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi lebih..banyak anak anak yang berangkat sekolah..angkutan umum dan kendaraan lain pun terlihat mulai ramai..jalanan masih berkelok dan menanjak

Tak terasa diriku telah sampai di daerah Cigombong, jalanan kecil berkelok serta kondisi jalan tidak sebagus seperti sebelumnya banyak lubang dibeberapa ruas serta jalanan mulai ramai..membuat Python tidak bisa digeber..

Diriku terus menapaki jalanan di Cigombong yang kurang bagus, sedikit keraguan muncul..apakah GPS memberikan arah yang tepat..tapi karena daerah Cigombong tidak kupahami dan hendak mengetahui kehandalan GPS maka kuikuti terus arah yang diberikan oleh GPS. Ternyata GPS memberikan arah yang benar karena tidak lama kemudian diriku muncul di jalan raya di daerah Sukabumi..pada saat itu pukul 07 pagi dan saatnya perut minta diisi..perjalanan kuteruskan hingga ada pertigaan..GPS menyarankan untuk ambil kanan..kuikuti ternyata adalah Jalan Siliwangi Sukabumi dan tidak jauh dari sana ada pedagang bubur ayam..saat itu cuaca mendung dan menunjukkan pukul 7.15 pagi..kupikir sarapan bubur ayam di pagi yang mendung setelah menempuh perjalanan lumayan jauh adalah suatu pilihan yang tepat..maka Python kuarahkan ke pedagang bubur dan sarapan bubur di Sukabumi

Tidak berapa lama diriku sedang sarapan, hujan lebat turun..di tempat jualan bubur kupakai jaket hujan yang dibawa..serta minta plastik untuk membungkus GPS agar tidak terkena hujan..Diriku tetap berkeputusan untuk mempergunakan GPS selama perjalanan ke Sawarna..diriku berangkat kembali pukul 7.35 pagi menyongsong jalanan macet di jalan Siliwangi dan GPS terbungkus plastik…

Ternyata kemacetan disebabkan oleh keramaian pasar di daerah Siliwangi Sukabumi dan ditambah dengan berhentinya angkutan umum dan kendaraan yang diparkir dipinggir jalan, GPS memberikan informasi siap-siap belok kanan ke daerah Cidahu…tidak lama kemudian memang ada belokan kekanan sesuai arahan GPS… ternyata kemacetan pun disebabkan oleh kendaraan yang keluar masuk di pertigaan tersebut..daerah tersebut adalah Cidahu..berdasarkan pengalaman perjalanan menuju Sukabumi kupercayakan arah pada GPS dan kuikuti

Jalan di Cidahu pada saat itu hujan dan banyak kendaraaan besar berupa truk yang keluar masuk bangunan pabrik..ada jalanan rusak mungkin disebabkan banyaknya truk yang melewati jalan tersebut.

Jalanan lancar walaupun dibeberapa ruas ada kerusakan jalan….di suatu tempat di jalan Madyunus Desa Parakan Salak terlihat latar belakang pegunungan yang entah namanya ku berhenti sejenak untuk mengambil gambar

Tidak berapa lama setelah kuteruskan perjalanan..diriku tiba di perkebunan Parakan Salak Sukabumi..kutanya ke penduduk sekitar apakah ada jalan ke Cikidang..ternyata dijawab ada dan jalur ini merupakan jalan pintas ke Cikidang dibandingkan melalui jalur biasa..sayang jalanan tidak bagus dan hujan membuat jalanan basah..

Setelah mendapat konfirmasi dari penduduk yang kutemui, maka kuikuti arah jalan yang diberikan oleh GPS, jalanan menembus perkebunan Parakansalak ternyata melalui jalan perkampungan penduduk yang kecil, kondisi jalan yang berlubang bahkan ada yang sudah kehilangan aspal tinggal batu-batu kali yang tersisa bahkan diriku melewati sebuah jembatan yang terlihat sudah lama tidak dirawat..pada saat itu hujan rintik-rintik menemani perjalanan diriku, jalanan sepi kemungkinan karena masyarakat sekitar enggan untuk keluar rumah karena hujan..yang kukhawatirkan adalah jalanan terjal disertai licin karena hujan..karena pada saat itu diriku masih diselimuti bayangan sewaktu tergelincir di jalan basah..serta diriku merasa bahwa pasangan ban yang dipasang tidak terlalu menggigit jalan yang basah dan berbatu

Di suatu tempat kutemui jalan menanjak sangat terjal dan hanya susunan batu kali yang terlihat, kebetulan ada penduduk yang sedang menaikan hasil pertanian ke sebuah mobil bak terbuka, minta tolong untuk mengambil gambar diriku dan berdasarkan informasi dari penduduk tersebut bahwa daerah tersebut adalah perbatasan antara desa Sukakersa dan desa Sukatani, melewati jalan menanjak akan ada jalan menurun yang sama terjalnya dan sudah memasuki desa lain..

Dengan keyakinan penuh setelah photo-photo dengan bantuan penduduk, maka mulailah jalanan terjal menanjak dan hanya batu kali licin tersebut kudaki, gas ditarik dalam-dalam..awalnya Python dapat menaiki dengan lancar namun tidak lama…ban melintas pada batu besar namun sangat licin membuat Python terpeleset..dengan refleks ku rem, namun Python terus mundur..batuan yang diharapkan bisa menahan laju Python ternyata sangat licin..ban tidak bisa mencengkram batu kali licin dan tanah basah ditanjakan tersebut..akhirnya Python mundur dan oleng..ambil keputusan cepat..ku lepas Python dan menyelamatkan diri..Python terjatuh tidak jauh dari tempat diriku jatuh..Python tertahan oleh tebing jalan…

Penderitaan berlanjut..mau tidak mau Python harus bisa sampai diatas..untung ada penduduk yang menolong untuk mendorong Python dari belakang..sedangkan diriku menuntun Python tanpa menaikinya..akhirnya Python bisa sampai diatas…setelah mengucapkan terima kasih kepada penduduk yang telah membantu..sambil istirahat dari kecapaian mendorong Python diriku mengambil photo bersama Python

Setelah istirahat pengambilan photo, kuteruskan perjalanan menuruni jalan terjal menurun dan hanya batu kali serta tanah merah yang tersisa, Python kujalankan pelan sekali..lebih lambat dari orang jalan santai..yang penting selamat…melewati jalanan buruk akhirnya kutemui jalanan aspal..namun sebentar setelah itu memasuki desa Duren Bongkok jalanan kembali berlubang dan basah..tidak ada pilihan terus maju..karena jawaban penduduk saat kutanya jalur tersebut betul kearah Cikidang..akhirnya di desa desa Pakuwon barulah jalan besar dan mulus kutemui namun penuh kelokan kutemui..jalan mulus dan berkelok kulalui hingga desa Kadu Dampit..sesuai dengan papan nama yang sempat kubaca dipinggir jalan

Tidak berapa lama ada warung dipinggir jalan..diriku memarkirkan Python di warung tersebut..untuk sekedar istirahat dan minum kopi hangat untuk menyegarkan badan yang letih dan kedinginan karena diguyur hujan selama perjalanan sebelumnya..warung tempat istirahat masih berada di kecamatan Kelapa Nunggal..ngobrol dengan penduduk sekitar yang mengeluhkan perkebunan teh diganti dengan perkebunan kelapa sawit akibatnya mereka susah untuk mencari rumput dan makanan kambing peliharaan mereka..awalnya diriku tidak mengerti karena sepanjang perjalanan yang kulalui adalah perkebunan teh bukan perkebunan kelapa sawit..namun setelah melanjutkan perjalanan sambil tidak lupa menanyakan arah ke Cikidang tidak jauh dari warung tempat istirahat diriku memasuki perkebunan teh yang telah berganti sebagian ditanami pohon kelapa sawit..ternyata nama perkebunan tersebut adalah perkebunan Cisalak…jalan di perkebunan Cisolok sangat mulus dengan belokan belokan sangat nikmat untuk mengendarai sepeda motor…

Pemandangan di perkebunan Cisalak sangat indah, godaan untuk mempergunakan tripod dan kamera saku tidak dapat ditahan..tidak berapa lama terlihat petunjuk arah menuju pelabuhan ratu..

Perjalanan ke Pelabuhan Ratu melalui Cikidang, dan benar informasi yang didapat bahwa perjalanan Cikidang-Pelabuhan Ratu dilalui dengan turunan dan tanjakan curam hampir disetiap ujung turunan atau tanjakan akan diakhiri dengan belokan tajam..perlu extra hati-hati melalui jalan ini..Diriku tidak sempat untuk berhenti mengambil gambar jalan Cikidang karena asyik bersama Python melalap tikungan dan tanjakan serta turunan..

Selepas Cikidang, ada petunjuk arah ke Cisolok atau melalui kota Pelabuhan Ratu…kupilih rute kota Pelabuhan Ratu..kota Pelabuhan Ratu ternyata ramai..banyak kendaraan lalu lalang didalam kota..setelah itu baru terlihat tempat pelelangan ikan Pelabuhan Ratu..tidak jauh dari tempat pelelangan ikan ada spanduk selamat datang di Pelabuhan Ratu..tujuan pertama sudah tercapai..memasuki Pelabuhan Ratu terlihat setiap mobil dari luar kota dipungut bayaran sedangkan sepeda motor dibiarkan lewat..ternyata ini tempat masuk dan pemunggutan retribusi ke Pelabuhan Ratu..

Pantai Pelabuhan Ratu terlihat beberapa pengunjung sedang berwisata dipantai namun tidak terlalu banyak pengunjung di sini..cuaca mendung..

Sesuai rencana di pantai Pelabuhan Ratu diriku makan siang, namun karena tidak menemukan tempat yang cocok maka sambil mencari tempat makan dijalankan Python kearah Karang Hawu..jalanan sedikit bergelombang dan lalu lintas ramai oleh tamu maupun penduduk sekitar..sepanjang perjalanan ke karang hawu beberapa kali berjumpa dengan rombongan biker..kembali saling menyapa lewat bunyi klakson..

Tiba di Karang Hawu pukul 12.30 siang, walaupun cuaca mendung tapi sudah berasa panas..istirahat sebentar untuk pengambilan photo kembali dengan tripod. Sedikit pengunjung terlihat di pantai Karang Hawu siang itu..di Karang Hawu tidak ada warung atau tempat yang menarik untuk disinggahi makan siang… Diriku agak lama istirahat di Karang Hawu..

Akhirnya kulanjutkan perjalanan ke arah Sawarna..jalanan mulai menanjak..tidak berapa lama ku melewati daerah dengan pemandangan pantai indah dibawahnya..kubalikkan Python ketempat tadi dan kembali bergaya dengan tripod dan kamera saku..

Setelah puas mengambil gambar..kembali kukendarai Python menapaki jalan menanjak dan mulus…tidak lama kemudian kulihat sebuah warung dengan pemandangan pantai indah tadi…langsung ku parkir Python di warung tersebut…kubuka perbekalan jeruk dan langsung ku kupas..waktu kutanya apakah ada makan nasi ternyata yang tersedia adalah mie instan…nggak apa-apa lah lumayan pengganjal perut..kupesan satu mangkok mie goreng…ditemani jeruk dan sebotol minuman kunikmati istirahat makan siang dengan pemandahan indah di kejauhan..

Bertanya dengan penjaga warung ternyata nama tempat tersebut adalah Puncak Habibi Kampung Cilengka perbatasan antara Jawa Barat dan Banten, sedangkan pantai di kejauhan adalah pantai Cibangban..Nikmat sekali istirahat disini..nyantai dibale-bale warung..cuaca tidak terlalu panas karena mendung, semilir udara segar dan disuguhi pemandangan indah..

Ingin rasanya berlama-lama bersantai ditempat ini, namun karena sudah lewat hari dan agar sampai di Pantai Sawarna tidak terlalu sore maka kutinggalkan tempat istirahat makan siang ini untuk langsung meluncur ke arah pantai Sawarna…

Jalanan mulus namun penuh tantangan tikungan tajam dan tanjakan serta turunan terjal kembali dihadapi selepas pantai Habibi, saat sedang asik menuruni turunan terjal pada saat berbelok tiba-tiba ada lobang yang tidak bisa dihindari..Python berguncang keras saat ban depan memasuki lobang, GPS terlepas..kupinggirkan Python dan memeriksa GPS ternyata masih bisa dipasang serta berfungsi, Python tidak mengalami kerusakan..

Sejauh pengamatan jalur Karang Hawu menuju pantai Sawarna sangat cocok untuk mengendarai sepeda motor namun perlu perhatian dengan beberapa ruas yang berlobang selebihnya enjoy the ride brother…

Kembali menapaki jalan mulus tapi penuh kelokan tajam..selepas kelokan tajam..memasuki perkebunan karet jalan mulus dan berkelok indah kujumpai..kulihat sebelah kanan ternyata terlihat pantai dibawah..aha..mungkin pantai tersebut adalah pantai Sawarna..berhenti sebentar untuk mengambil gambar..dan menikmati pemandangan indah didepan mata..

Sedang asiknya menikmati perjalanan tiba-tiba menemukan persimpangan jalan beserta Gapura kearah kiri, menurut pendapatku ini adalah pintu masuk ke pantai Sawarna karena sudah terlihat pantainya..kutanyakan kepada penduduk disana ternyata betul jalan yang bergapura adalah jalan menuju pantai Sawarna..kembali minta tolong ke penduduk untuk mengambil gambar diriku di pintu masuk pantai Sawarna Bayah

Setelah mengendarai 2 kilometer dari pintu masuk dan melewati sebuah jembatan disambut satu tempat wisata pantai..setelah kutanya kepada pedagang yang ada disana ternyata ini adalah pantai pulau manuk atau pulau burung..karena dahulu banyak burung yang singgah dan bersarang di satu pulau ditengah laut..tapi sekarang jarang burung terlihat di pulau manuk entah kenapa..

Setelah pulang dirumah kucoba browsing mengenai pulau manuk dan menemukan artikel yang menyedihkan dibalik indahnya panorama pantai Bayah di pesisir Banten ini

Disarikan dari beberapa sumber hasil browsing internet mengenai Pantai Pulau Manuk Bayah :

Pantai Pulau Manuk berada di Kecamatan Bayah,kabupaten Lebak merangkai dengan pantai Karang Taraje tetapi pantai ini merupakan pantai Pasir putih yang terbebas dari batu karang.
Pesisir yang luas dan landai dengan ombak yang sedang, aman untuk berenang maupun berselancar. Dari Karang Teraje berjarak 2 km.

Menjorok ke laut terdapat sebuah pulau karang dimana banyak burung bertengker istirahat disana

Pada zaman penjajahan Jepang, tulis Adhy Asmara dalam Pesona Wisata Zamrud Katulistiwa Banten, kapal-kapal perang Jepang banyak yang melakukan pendaratan di seputar muara Cimadur, Pantai Bayah. Saat itu, Bayah dikenal sebagai penghasil utama batu bara, yang digunakan untuk bahan bakar kereta api, kapal laut, dan pabrik.
Penambangan batu bara, antara lain dengan pembuatan lubang-lubang tambang batu bara di Gunung Madur serta pembuatan rel kereta api Bayah-Seketi untuk mengangkut batu bara, diperkirakan memakan korban kurang lebih 93.000 romusha. Pareno salah seorang saksi hidup romusha mengungkapkan, sebagian besar romusha itu didatangkan dari Jawa Tengah, seperti Purworejo, Kutoarjo, Solo, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan lain-lain.

Sejarah Romusha di Bayah merupakan potensi wisata sejarah yang diabaikan. Potensi itu sebenarnya akan melengkapi potensi wisata pantai selatan dan wisata ke gua-gua alam. Namun, semua potensi tersebut kurang digarap sehingga terkesan merana.

Adhy Asmara dalam buku yang sama menyebutkan, kawasan Pulau Manuk telah ditata menjadi Desa Wisata Romusha Pulau Manuk. Akan tetapi, saat menyusuri kawasan itu, tidak terlihat adanya tanda-tanda tempat itu telah dijadikan desa wisata.
Sejarah romusha di Banten Selatan-seperti sejarah di balik Tembok Berlin (Jerman), kisah di balik Tugu Tiananmen (China), atau cerita kekejaman Nazi di Monumen Kebangkitan 1944 di Warsawa (Polandia)- sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata untuk mengenang luka sejarah….

Selain terkenal dengan sejarah romusha, Bayah juga tercatat dalam buku sejarah sebagai tempat persembunyian tokoh Tan Malaka. Di Banten Selatan itu, ia pernah menyamar sebagai mandor pertambangan batu bara dengan nama samaran Ilyas Husein. Tan Malaka sempat mengorganisasi para romusha, membentuk kelompok drama, dan menyelesaikan karya magnum opus-nya, Madilog.

Andaikata ada sebuah cara untuk mengenang sejarah bangsa ini, Pulau Manuk di Pantai Bayah ini niscaya akan menjadi obyek wisata sejarah, melengkapi wisata pantai yang membentang di pesisir Banten Selatan. Keindahan panorama pantai akan diperkaya oleh kedalaman perenungan batin atas perjalanan sejarah negeri ini..

Diriku tidak lama berada di Pantai Pulau Manuk Bayah karena sudah menunjukkan pukul 3.15 sore masih ada tujuan lainnya yaitu Tanjung Layar yang menurut penjaga pintu pantai ini yang menagih 5.000 rupiah pada saat diriku hendak meninggalkan pantai Pulau Manuk menyatakan bahwa ke Tanjung Layar dari Pantai Pulau Manuk sekitar 10 km.

Menyusuri pantai jalan menuju Tanjung Layar di Desa Sawarna ternyata banyak berlobang..melewati hutan..namun tidak lama setelah itu perkebunan kelapa rakyat menyambut kita dikanan jalan memberi kesempatan kepada diriku untuk mengintip Tanjung Layar dari sela-sela pohon kelapa..

Mendekati desa Sawarna terlihat rumah-rumah penduduk sepanjang jalan, di suatu tempat terlihat banyak mobil dari berbagai kota parkir..pasti ini yang disebut Desa Sawarna..ternyata betul inilah pintu masuk Desa Sawarna…

Sepertinya Desa Sawarna ini sekarang sudah terkenal dan mampu menyedot banyak wisatawan lokal maupun asing terbukti pada saat diriku tiba desa sawarna ini lebih ramai dibandingkan Pantai Pelabuhan Ratu, Karang Hawu maupun pantai Pulau Manuk yang telah kulalui..

Seperti umumnya daerah yang telah menjadi tempat wisata terkenal..maka bagi turis atau wisatawan tidak akan bebas dari calo atau pedagang asongan..di Desa Sawarna ini tidak ada pedagang asongan namun tukang ojek dan calo penginapan langsung berusaha akrab menanyakan dari mana dan apakah perlu jasa ojek atau mencari penginapan

Oh ya dipintu masuk terdapat spanduk yang menyatakan bahwa Desa Sawarna ini dinyatakan sebagai tempat wisata ramah lingkungan terbukti tidak ada jalan untuk kendaraan roda empat..pintu masuknya pun terbuat dari jembatan gantung yang hanya cukup untuk dilalui satu sepeda motor..jembatan gantung ini melintasi sungai yang relatif besar..diriku agak khawatir juga sewaktu melintasi jembatan tersebut..sempat berhenti sejenak di tengah jembatan karena jembatan bergoyang-goyang..sewaktu Python dan diriku melintas…

Berhasil melintasi jembatan gantung maka akan ditagih retribusi sebesar 3.000 rupiah, memasuki desa Sawarna seperti kampung lainnya jalanannya berupa jalan cukup untuk satu sepeda motor. Di Desa Sawarna ini banyak rumah serta penginapan tersedia disini..berdasarkan informasi yang kuperoleh rata-rata penginapan disini berkisar 100.000 hingga 150.000 rupiah per orang per malam untuk penginapan dan akan jauh lebih murah apabila kita mempergunakan rumah penduduk untuk menginap..rata-rata rumah penduduk dapat disewa sebesar 50.000-75.000 rupiah per orang per malam…semuanya mendapatkan fasiltas sarapan..berdasarkan informasi yang kuperoleh pula jangan malu untuk menanyakan ada kamar yang bisa disewakan ke penduduk setempat apabila hendak menginap di rumah penduduk yang bertarif lebih murah dibandingkan penginapan yang banyak tersedia di Desa Sawarna ini.

Sawarna adalah sebuah desa pesisir yang memiliki berbagai macam objek wisata menarik salah satunya adalah Tanjung Layar. Dinamai demikian karena adanya karang raksasa berbentuk mirip layar kapal laut. Di puncaknya terdapat beberapa pohon pendek yang masih hijau. Kata salah seorang penduduk asli Sawarna, pohon tersebut sudah puluhan tahun di sana dan ukurannya tidak berubah

Jalan menuju Tanjung Layar dari Desa Sawarna harus melalui jalan tanah setapak..kebetulan tidak hujan..sehingga sepeda motor dapat mencapai pantai dimana Tanjung Layar berdiri..kalau basah dan hujan diriku yakin sepeda motor tidak dapat melaluinya.

Pukul 4 sore ….akhirnya diriku dan Python berhasil juga menatap langsung Tanjung Layar..oh indahnya pemandangan..oh puasnya diriku..perjalanan nikmat tempat tujuan indah..lelah langsung sirna..

Pada saat itu terlihat banyak wisatawan yang membawa peralatan photographi nya sepertinya untuk mencari objek photo dan menunggu matahari terbenam..namun sepertinya awan terus menghalangi matahari untuk tersenyum cerah pada pengunjung Tanjung Pasir di sore itu…
kucari tempat memarkirkan Python..ada beberapa sepeda motor berjejer namun sepertinya motor orang setempat…kujelajahi daerah sekitar ternyata terlihat dua buah sepeda motor yang telah dimodifikasi touring style terparkir..yang satu adalah Honda Tiger dan satu lagi adalah Yamaha Scorpio

Ku parkir dekat sepeda motor tersebut dan mencari pemiliknya..tidak susah mencarinya karena biker mempunyai gaya tubuh, sorot mata dan dandanan khusus yang membedakan dengan pengunjung lainnya…kudekati mereka yang sedang istirahat ngopi..di warung..berkenalan..Bro Sulis yang memakai Honda Tiger dan ikut club HTML Jaksel serta Bro Yance pengendara Scorpio..kedua brother dari Jakarta Selatan mulai perjalanan jam 7 pagi dan baru sampai tidak lama sebelum diriku tiba…beberapa pertanyaan standar dari mana..hendak kemana..berapa orang..lewat mana…adalah kalimat pembuka…selanjutnya adalah keakraban…kami berphoto bersama untuk kenang-kenangan…once again bikers brotherhood will always exist..solo touring tidak akan benar-benar sendirian..

Jam telah menunjukkan pukul 5 sore..diriku pamit kepada Bro Yance dan Bro Sulis yang bermaksud menginap di Desa Sawarna semalam sebelum kembali ke Jakarta..Diriku harus pulang secepatnya agar dapat sampai di pelabuhan ratu tidak terlalu malam..dan kalau masih memungkinkan akan langsung pulang walaupun kecil kemungkinan tiba malam hari di Serpong…Mana yang kupilih..langsung pulang ke Serpong dan sampai di Serpong keesokan pagi atau menginap di tengah perjalanan dan esoknya baru pulang ke Serpong…Cerita perjalanan pulang akan dirangkai pada judul dan tema yang sama bagian 2 perjalanan Sawarna to Serpong……………. (to be continued)


Aksi

Information

3 responses

18 10 2011
Sulis

RR-nya mantap Om Tanto… ada foto kita-nya…
yuk riding lagi…. en jangan lupa join di nusantaride.com yah, banyak adventure rider kayak Om di situ….

18 10 2011
Tanto

Terimakasih atas commentnya..solo touring yang mengesankan..bertemu Om Sulis n Om Yance menambah nikmatnya perjalanan..let’s keep riding..saya pasti join nusantaride.com..mudah-mudahan dapat kenalan sama biker seperti Om Sulis n Om Yance

15 08 2013
sendi

mantap masbro..biker sejati..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: