Ketika di Kuala Lumpur

12 10 2011

Akhir September 2011 diriku bersama beberapa rekan kerja dari berbagai unit ditugaskan untuk menghadiri suatu seminar yang berhubungan dengan penanganan kondisi darurat yang diselenggarakan oleh Asosiasi Asia Pasifik yang berhubungan dengan industri tempat diriku bekerja. Seminar tersebut bertempat di Kuala Lumpur Malaysia dengan jadwal keberangkatan tanggal 27 September 2011 dan jadwal kepulangan tanggal 30 September 2011. Diriku merencanakan di sela-sela kegiatan disana untuk melihat bagaimana pengguna lalulintas terutama pengendara motor disana jenis sepeda motor apakah yang umum dipergunakan disana dan apakah pengendara sepeda motor lebih tertib dibandingkan di Indonesia

Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta dengan mempergunakan penerbangan Garuda, seperti biasa Garuda memberikan pelayanan yang memuaskan selama perjalanan, pesawat yang relatif masih baru, tempat duduk yang lapang, hiburan di pesawat yang bagus serta pelayanan ramah yang ditunjukan oleh pramugarinya membuat penerbangan di pagi yang cerah semakin menyenangkan.

Kami mendarat di Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) setelah menjalani 2 jam penerbangan dan terbang hingga ketinggian diatas 11 km serta kecepatan kalau didarat mencapai 850 km/jam.

Bandara Kuala Lumpur International Airport sangat luas, menurut informasi yang diperoleh Bandara ini direncanakan untuk menampung hingga 130 juta penumpang per tahun, beberapa fasilitas dan petunjuk informasi disedikan dalam beberapa bahasa seperti bahasa Melayu, bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, bahasa Jepang dan bahasa Arab serta tersedia juga fasilitas untuk penyandang cacat

Menyadur dari Wikipedia, Kota Kuala Lumpur yang sekarang menjadi ibukota Malaysia dimulai pada tahun 1850-an, ketika Raja Abdullah membayar buruh Cina untuk membuka tambang timah yang baru dan lebih besar. Mereka tiba di muara Sungai Gombak dan Sungai Klang untuk membuka tambang di Ampang.

Terlindung oleh Pegunungan Titiwangsa di timur dan pulau Sumatra, Indonesia, di barat, Kuala Lumpur memiliki iklim hutan hujan tropis yang hangat dan cerah, dengan curah hujan yang lebat sepanjang tahun, terutama pada musim muson timur laut dari bulan Oktober hingga Maret. Suhu kota ini cenderung konstan, dengan titik maksimum sekitar 31 hingga 33 °C (88 hingga 91 °F) dan tidak pernah melampaui 37 °C (99 °F), sementara titik minimum sebesar 22 hingga 23,5 °C (72 hingga 74 °F) dan tidak pernah kurang dari 19 °C (66 °F); bulan Juni dan Juli relatif kering.

Luas wilayah Kuala Lumpur meliputi 243 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2010 mencapai 1,627,172 jiwa dan kepadatan penduduk mencapai 6,696/km, ternyata masih kalah dengan Jakarta yang mempunyai luas wilayah 740,30 km2 dengan jumlah penduduk 9.588.188 jiwa dan kepadatan penduduk 12.951,8/km2

Di Kuala Lumpur, beraneka ragam budaya bercampur, seperti Melayu, Cina, India, Serani, dan juga suku-suku Kadazan, Iban dan suku asli lain dari Malaysia Timur dan Barat. Pesatnya pembangunan Kuala Lumpur juga menarik perhatian pekerja asing dari Indonesia, Nepal, Burma, Thailand, Bangladesh, Pakistan, India, Sri Lanka, dan Vietnam.

Di sela-sela kegiatan seminar diriku mengamati lalu lintas di kota Kuala Lumpur, ternyata tidak jauh berbeda dengan Jakarta, terutama pada saat jam berangkat dan pulang kantor kemacetan panjang terjadi di beberapa ruas jalan, kemacetan mungkin akan bertambah buruk seperti di Jakarta apabila Kuala Lumpur tidak mempunyai sarana transportasi umum monorail tidak seperti Jakarta yang hingga saat ini transportasi kereta monorail masih menjadi polemik.

Sepeda motor yang paling umum ditemui adalah jenis sepeda motor bebek, terlihat bahwa kesadaran berkendara di Kuala Lumpur masih belum memperhatikan sarana dan pengguna jalan lain, seperti penggunaan trotoar sebagai lahan parkir dan melewati marka jalan serta menerobos lampu merah oleh sepeda motor terlihat di setiap persimpangan jalan. Menyeberang jalan apabila tidak mempergunakan jembatan penyebrangan perlu kewaspadaan tinggi.

Malam sebelum kepulangan, kami berkesempatan untuk melihat-lihat kota Kuala Lumpur dan membeli oleh-oleh, secara umum harga-harga di Kuala Lumpur lebih mahal dibandingkan Jakarta, diriku membeli oleh-oleh untuk isteri dan anak-anak. Kami tidak mengunjungi Menara kembar Petronas yang menjadi salah-satu ikon kota Kuala Lumpur karena semua rombongan telah beberapa kali berkunjung ke Kuala Lumpur dan sedikitnya waktu yang tersedia untuk berjalan-jalan di Kuala Lumpur disela-sela kegiatan seminar.

Keesokan harinya kami pulang ke Jakarta dengan mempergunakan penerbangan Garuda pertama dari Kuala Lumpur, dalam perjalanan ke Bandara melalui jalan tol kulihat beberapa pengendara sepeda motor juga mempergunakan jalan tol tersebut, sewaktu kutanya kepada rekan kerja yang ditempatkan di Kuala Lumpur dan mengantar kami ke Bandara, rekan kerja menjawab bahwa di Kuala Lumpur sepeda motor boleh mempergunakan jalan tol.

Penerbangan dengan Garuda menuju Bandara Soekarno-Hatta seperti penerbangan-penerbangan lain yang kulakukan dengan Garuda, penerbangan kali ini pun merupakan penerbangan yang menyenangkan fasilitas hiburan, keramahan awak pesawat dan kualitas makanan saji di pesawat ternyata sesuai dengan iklan Garuda yang sering ditampilkan di televisi yaitu Garuda Experience membuat penerbangan 2 jam yang menyenangkan tersebut menjadi pengalaman indah bersama Garuda.

Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, kuinjakkan lagi kakiku di bumi Indonesia …Bagaimanapun aku selalu bangga dan cinta terhadap Indonesia ku..


Aksi

Information

One response

25 06 2014
jo

Speda motor menggunakan jalan bertol secara percuma.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: