Menyusur Pematang Menuju Pantai Di Desa Kohod

8 08 2011

                                       
Setelah melakukan perjalanan ke daerah pegunungan yaitu Curug Cigamea, maka diriku merencanakan untuk melaksanakan perjalanan ke daerah pantai, tepatnya pantai di pesisir utara Tangerang.

Seperti biasanya sebelum melaksanakan perjalanan maka pengenalan rute diperlukan dan yang pertama menjadi acuan adalah Google Maps.

Sewaktu mencari pantai yang akan dituju, kutemukan suatu daerah yang mempunyai akses jalan langsung ke pantai namun tempat tersebut belum pernah kudengar menjadi tempat wisata baik oleh teman-teman kantor maupun sesama biker. Daerah tersebut adalah Desa Kohod Kabupaten Tangerang.

Diriku penasaran untuk mencari informasi lebih jauh. Dunia maya kujelajahi untuk mencari keterangan lebih lengkap mengenai daerah tersebut. Ternyata informasi yang didapat tidaklah banyak.

Informasi tersebut menceritakan mengenai Desa Kohod yang tertinggal dibandingkan desa lainnya, pembangunan wilayah yang tersendat, serangan ulat bulu serta juga ada berita terbaru mengenai tindak kriminal di daerah tersebut.

Desa Kohod adalah suatu desa di kecamatan Pakuhaji Kabupaten Tangerang Propinsi Banten, berjarak sekitar 35 Km ke utara dari Serpong.

Diriku jadi penasaran untuk berkunjung kesana untuk memastikan kenapa daerah yang mempunyai jalan akses langsung ke pantai tidak pernah terdengar menjadi tujuan wisata, namun berita tindak kriminal sempat membuat diriku ragu apakah daerah tersebut aman untuk dikunjungi… Setelah mengevaluasi dan berpikir ulang..bahwa toch kejadian kriminal terjadi juga di daerah lain…akhirnya kutetapkan bahwa Desa Kohod memang tempat yang harus kukunjungi untuk menjawab rasa penasaranku..

Perjalanan inipun akan sekaligus menjadi cobaan pertama mempergunakan GPS Super String di Python our Meggy, dengan pemasangan pada spedo meter mempergunakan dudukan bawaan GPS tersebut.

Rute yang kupergunakan adalah rute perjalanan berdasarkan yang ditetapkan oleh GPS. Kucoba pertama kali sistem navigasi Navitel ternyata tidak memberikan data selengkap Google Maps sewaktu kucari tujuan Desa Kohod, lalu kucoba sistem navigasi IGO, yang ternyata IGO dapat menunjukkan peta lokasi desa Kohod termasuk jalan yang menuju pantai. Jadi untuk perjalanan ke pantai di Desa Kohod GPS mempergunakan sistem navigasi IGO dan kutetapkan tujuan akhir adalah Mesjid Desa Kohod sesuai dengan Point of Interest yang ditayangkan oleh sistem navigasi IGO.

GPS kupasang di spedomter dan lighter kufungsikan sebagai charger GPS, pada saat dipasang semuanya berfungsi baik tinggal melihat ketahanan dudukan GPS apakah kuat merekat dengan getaran dan goncangan tinggi sepeda motor.
Ingin kuketahui juga apakah debu dan goncangan tersebut mempengaruhi kinerja GPS selama perjalanan.

Ternyata GPS berfungsi dengan baik, kuikuti arah yang ditentukan oleh sistem navigasi IGO menuju desa Kohod. Selama perjalanan dari Serpong menuju Desa Kohod. Sistem navigasi IGO menunjukkan arah seperti yang diberikan oleh Google Maps. Perjalanan melalui jalan mulus dan lancar yang disebabkan kemungkinan hari Sabtu dimana banyak tempat kerja dan kantor libur.

Pada suatu belokan selepas pasar Kampung Melayu Teluk Naga, GPS menyuruh berbelok ke kanan, tanpa ragu kuikuti ternyata di GPS menunjukkan jalan Desa Kohod. Jalan Desa Kohod ternyata mulus namun setelah beberapa ratus meter jalanan buruk menghadang..jalan buruk terus berlanjut hingga masuk Desa Kohod.

Perjalanan memasuki Desa Kohod menyusuri sebuah sungai dimana dipinggir sungai tersebut terdapat beberapa tempat pembuatan perahu, setelah kutanya pada penduduk yang melintas baru kutahu bahwa sungai tersebut bernama Kali Beting.

Akhirnya sampai juga GPS mengantar hingga mesjid Desa Kohod yang bersebelahan dengan kantor desa Kohod. Desa Kohod terlihat gersang di musim kemarau, Jalan desa yang jelek, sungai yang kurang terjaga menyebabkan dibeberapa bagian sungai air tertahan..bahkan ada sungai yang berwarna hijau dengan air yang tidak mengalir dan terdapat tempat pembuangan air besar tanpa dilengkapi dengan fasilitas MCK yang layak dan bersih…memberikan gambaran kehidupan penduduk di Desa Kohod.

Kami meneruskan perjalanan hingga ke batas Desa Kohod dan Desa Sukawati. Menjelang akhir batas Desa Kohod jalan kembali mulus, namun kelihatannya tidak menuju pantai, akhirnya kutanya kepada penduduk sekitar apakah ada jalan ke pantai..ditunjukkan jalan ke Pantai dengan pandangan heran, sebelum ditanya mereka menerangkan bahwa pantai tersebut kurang bagus dibanding pantai wisata di Tanjung Pasir..

Kusampaikan bahwa kami ingin ke pantai di Desa Kohod dan ingin memastikan bahwa pantai dapat dicapai dengan sepeda motor..mereka menyampaikan kembali arah jalan ke pantai dan memastikan bahwa ada jalan untuk sepeda motor menuju pantai.

Akhirnya kami mengambil jalan yang ditunjukkan, ternyata jalan tersebut memang untuk sepeda motor..kendaraan roda empat hanya dapat sampai setengah jalan setelah itu jalan setapak yang merupakan pematang tambak. Diriku membayangkan di musim hujan jalanan ini tidak mungkin dilalui kendaraan karena jalanan hanyalah tanah kering yang keras dimana apabila hujan kemungkinan akan berubah menjadi jalan berlumpur.


Python our meggy akhirnya diparkir di pematang tambak sekitar 200 meter dari pantai karena tidak ada jalan lagi ke pantai untuk kendaraan.
Kami mengambil gambar dan terlihat bahwa pantai tersebut tidak terawat dan memang tidak dapat dijadikan tempat wisata.

Sewaktu melihat kelaut lepas kulihat ada beberapa bekas bangunan jauh ketengah laut.. diriku menduga itu adalah bekas bangunan permanen yang dibangun diatas tanah namun tergerus oleh abrasi air laut.


Tidak terlalu lama kami di pantai tersebut dan kembali ketempat sepeda motor kami yang bernama Python terparkir.

Kami melewati satu rumah penduduk yang paling dekat dengan pantai, kebetulan penghuni rumah tersebut sedang ada diluar, kusapa dan berbincang-bincang sebentar mengenai kondisi pantai.. Disampaikan oleh penduduk tersebut bahwa pantai yang kami datangi adalah pantai Kramat dan sisa bangunan di tengah laut adalah betul sisa bangunan rumah yang hancur karena abrasi yang terjadi semenjak tahun 80an, hingga saat ini abrasi air laut telah menggerus lahan sepanjang 2 kilometer ke darat..

Selain itu kamipun menanyakan pantai lainnya di sekitar desa Kohod, disampaikan oleh mereka bahwa desa Kohod memiliki beberapa pantai, salah satunya adalah muara dimana untuk menuju kesana harus mengambil route arah kembali dan akan menemukan pertigaan jalan..ya aku ingat di Google maps ditunjukkan ada jalan ke arah kanan kalau dari jalan masuk Desa Kohod tadi, tapi jalan tersebut tidak sampai ke pantai. Penasaran diriku akhirnya kutanya apakah motor dapat hingga ke pantai mereka menyatakan bahwa jalanan ke pantai sama kondisinya jalan ke pantai Kramat ini..akhirnya kami pamit setelah mengucapkan terimakasih atas penerimaan dan pemberian informasinya.

Diriku dan my lovely wife sepakat bahwa segala penasaran mengenai pantai di Desa Kohod harus terpenuhi..Kami menuju pantai satu lagi seperti yang ditunjukkan oleh petani tambak di pantai Kramat.

Kami saat ini tidak mempergunakan GPS sebagai panduan karena Lighter sekarang dipergunakan untuk charger HP dan GPS pun sudah menyatakan bahwa kami telah sampai ditujuan yang ditetapkan dan kami agak malas untuk mengisi tujuan lainnya.

Setelah bertanya ke penduduk sekitar mengenai pantai di daerahnya, dengan pandangan heran mereka menyatakan bahwa pantai memang tidak jauh namun perjalanan kesana sangat sulit apabila memakai kendaraan bermotor terutama sepeda motor yang kami pergunakan dan juga pantai yang akan kami kunjungi tidak bagus untuk dijadikan tempat wisata, mereka menganjurkan pantai tempat wisata yang telah dikenal luas seperti pantai Tanjung Pasir. Namun kami menyatakan bahwa kami ingin ke pantai di Desa Kohod akhirnya masih dengan keheranan mereka menunjukkan arah yang harus dituju.

Ternyata kami salah mengambil jalan…. kami menuju kebun pohon kelapa yang padat dan tumbuhan besar lainnya, sangat teduh dan ada beberapa kambing dan kerbau yang sedang merumput. Kami terus melanjutkan perjalanan dengan harapan setelah kebun kelapa maka pantai yang ada di depan kami.

Tanjung Burung Desa Kohod

Kami meneruskan perjalanan… tidak berapa lama kami membaca pengumunan yang ditempel di pohon bahwa dilarang untuk menembak burung di Tanjung Burung..oh ternyata ini yang dimaksud Tanjung Burung yang tercantum di Google Maps.
Tak berapa lama kami sampai di ujung jalan..tidak ada lagi jalan yang ada adalah suatu tempat yang asri dan terawat dengan beberapa bangunan panggung dari bambu..kami agak kaget juga ternyata ada tempat yang terawat kebersihannya di suatu tempat yang sangat jauh dari pemukiman terdekat..kami dihampiri oleh seorang laki-laki dan kami menanyakan tempat apakah ini dijawab bahwa ini adalah tempat ber meditasi.. melihat kami belum mengerti apa yang dimaksud dengan tempat meditasi..maka laki-laki tersebut yang menolak untuk diphoto menerangkan kembali bahwa tempat tersebut untuk umat Budha bermeditasi atau menyepi dan dia adalah salah seorang asisten biksu yang sedang melakukan ibadah meditasi untuk waktu tiga bulan. Kami menanyakan apakah boleh mengambil gambar tempat tersebut dijawab bahwa ia akan menanyakan terlebih dahulu kepada yang punya tempat apakah diperbolehkan dan ia minta ijin kami untuk menanyakan terlebih dahulu.

Tak berapa lama laki-laki tersebut kembali dan menyatakan bahwa yang punya tempat tersebut mengijinkan untuk mengambil gambar tempat tersebut serta mengundang kami untuk bertemu dengannya..sebetulnya kami hendak meninggalkan tempat tersebut selain karena berbeda keyakinan juga kami khawatir terlalu sore ke pantai yang menjadi tujuan kami…namun kami tidak enak untuk menolak undangan tersebut akhirnya kami datang memenuhi undangan tersebut. Tiba di tempat ternyata yang punya tempat tersebut sedang berbincang dengan seorang biksu..kami menyapa terlebih dahulu dan meminta maaf karena secara tidak sengaja datang ketempat ini karena tersasar dan tidak lupa kami juga meminta maaf tidak dapat menerima tawaran minum dari mereka karena kami sebagai muslim saat ini sedang berpuasa, kami disambut dengan keramahan..kami berbincang-bincang dan masing-masing sepertinya memahami untuk tidak membicarakan seputar agama namun perbincangan yang bersifat umum seperti cuaca dan daerah yang akan kami lalui apabila kami bersikukuh ke pantai.


Pondok Meditasi Mahapurisa


Kami tidak terlalu lama disana sebab kami khawatir terlalu sore dan memang kami merencanakan untuk tiba kembali di rumah sebelum waktu berbuka puasa.

Kamipun berangkat dan menuju jalan lainnya di pertigaan yang pernah kami lewati..setelah menanyakan kepastian arah jalan kepada seorang yang kami temui kami mulai memasuki jalan kecil yang lebih tepat adalah jalan setapak dan pematang tambak dengan jempatan darurat..apabila dibandingkan dengan jalan ke Pantai Kramat sebelumnya maka jalanan menuju pantai yang satu ini ternyata lebih berat lagi..beberapa kali kami melihat penduduk dan petani tambak melihat kami dengan keheranan dan bertanya hendak kemana..kami jawab bahwa kami ingin kepantai..melihat dandanan dan motor kami mereka seakan tidak yakin akan tujuan kami beberapa kali kami disarankan penduduk dan petani tambak disana untuk kembali dan ketempat wisata lainnya, karena pantai yang kami tuju kurang baik lokasinya dan sangat sukar menuju kesana apabila mempergunakan sepeda motor kami..kami sampaikan bahwa kami harus kesana karena tanggung sudah sampai disini serta yang kami ingin tahu adalah apakah ada jalan untuk sepeda motor..dengan keheranan mereka akhirnya menunjukkan arah ke pantai yang dituju.


Akhirnya kami tiba di perbatasan antara daratan dan lautan di ujung utara Tangerang setelah kami tanya kepada petani tambak disana menyatakan bahwa tempat yang kami tuju sekarang bernama Muara Kalimati.

Muara Kalimati keadaannya sama dengan Pantai Kramat yaitu sulit untuk dicapai dengan kendaraan dan kondisi pantai saat ini yang tidak dapat dijadikan tempat wisata.

Akhirnya kami mengetahui kenapa pantai di Desa Kohod Kabupaten Tangerang tidak pernah terdengar sebagai tempat wisata seperti pantai lainnya di pesisir utara Tangerang, hal ini disebabkan kondisi dan sarana mulai di Desa Kohod hingga pantai yang dituju sangat tidak memadai untuk dijadikan tujuan wisata pantai.

Mudah-mudahan Desa Kohod mendapatkan perhatian dan bantuan untuk dapat membangun daerahnya agar tidak tertinggal dengan daerah sekitarnya.

Kami akhinya pulang menjelang sore..kami tidak mempergunakan GPS sebagai panduan karena kami paham rute yang harus kami lalui..kemacetan hanya kami temui dipasar Kampung Melayu Teluk Naga disebabkan sebuah truk yang memaksa untuk berputar arah…

Akhirnya kami sampai juga dirumah dengan puas..puas karena penasaran sudah terjawab dan puas telah melakukan perjalanan solo touring ke suatu daerah yang belum pernah kami singgahi..seperti bikers lainnya kami pun mempunyai moto bahwa tempat bukanlah tujuan tapi menjelajah suatu daerah dan mengenal mengenai kehidupan dan penduduknya adalah suatu kenikmatan tersendiri… It is not about a destination..It is about a journey…


Aksi

Information

10 responses

22 08 2011
ricoh sanusi

dari tanjung pasir jauh ga?

26 08 2011
Tanto

Tidak jauh bro, dari desa Kohod sebenarnya ada jalan pintas ke Tanjung Pasir dengan menyebrangi Kali Beting

13 11 2012
aldo

Terimakasih infonya

13 11 2012
Tanto

Sama-sama om Aldo

11 08 2013
syaiful

mantab sekali bro

21 05 2014
anggiwirza

mas bikin dudukan GPSnya gimana ya?

22 05 2014
Tanto

Mas Anggi, itu tempat dudukan merupakan paket dari GPS, sekarang banyak dijual dudukan siap pasang dan siap pakai, bisa digunakan untuk dudukan HP/GPS atau gagdet lainnya..

22 05 2014
anggiwirza

brarti pake dudukan gps yang universal gitu ya?

saya baru beli superspring gak dapet dudukan ke motor soalnya.

22 05 2014
Tanto

Waktu itu saya tempel dudukan gps bawaan paket gps ke speedometer dan diikat agar tidak jatuh..sekarang sudah ganti dengan dudukan yang biasa buat hp/gagdet di motor..sudah banyak tersedia ditoko aksesoris motor dan toko perlengkapan outdoor

22 05 2014
anggiwirza

baik mas terimakasih infonya🙂

nanti saya cari-cari deh ditoko deket rumah😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: