Perjalanan I : Tangerang – Jogjakarta PP – Etape 7 : Bandung – Tangerang

6 07 2011

                                       
Kami benar-benar mempergunakan istirahat semalam di Bandung untuk persiapan perjalanan besok ke Tangerang sebagai etape terakhir.

Sebelum diriku tidur, kubereskan barang bawaan yang hendak dibawa, barang bawaan kali ini adalah sleeping bag, matras, jas hujan, handicam, camera digital dan tripod, yang lainnya ikut mobil ke Serpong, dititipkan kepada yang akan mengantar anak-anak kami sekaligus mengantarkan Jawara our Xenia ke Serpong Tangerang

Kami mengetahui bahwa etape terakhir ini adalah etape yang melelahkan dan paling lama perjalanannya, namun penuh tantangan.

Kami tahu bahwa perjalanan melalui Bandung Selatan yaitu daerah Ciwidey sangat mengasyikan melalui daerah perkebunan strawberi hingga kawah putih dan situ patenggang setelah itu akan menemui daerah perkebunan teh Rancabali yang sangat indah pemandangannya..namun dari sana hingga Sukabumi kami tidak mengetahui daerah yang akan dilalui seperti apa, sedangkan rute melalui Sukabumi kami ambil untuk menghindari melalui daerah Puncak Bogor di waktu malam yang pernah kami rasakan betapa dinginnya udara malam mempergunakan sepeda motor sewaktu kami berangkat dari
Tangerang ke Bandung pada etape 1

Bandung-Soreang-Banjaran-Ciwidey-Kawah Putih-Cidaun-Sindangbarang-Sukabumi-Ciawi-Tangerang

Banyak yang menyarankan agar kami tidak mempergunakan rute tersebut karena selain sangat jauh memutar juga akan melalui hutan sepi, namun jalur Bandung-Tangerang baik melalui Cianjur-Cipanas atau Jonggol atau Sukabumi atau Subang-Purwarkarta telah kami rasakan sehingga kami tetap merencanakan perjalanan dengan rute Bandung Selatan, sesuai dengan rencana kami semula yaitu kami akan mempergunakan rute lain yang belum pernah kami lalui.

Pagi hari kami bangun dan bersiap-siap melaksanakan etape terakhir perjalanan Tangerang-Jogjakarta PP. Kami pamit dan titip anak-anak kepada kakak yang akan mengantar mereka ke Serpong.

Tujuan kami pertama adalah mengisi perut untuk sarapan terlebih dahulu. Last but not least kami menuju serabi Talaga yang menjadi langganan kami. Kami nikmati serabi telor oncom dan secangkir kopi dengan nikmat.. dan memang nikmat hm..serabi ini memang bikin rindu pulang kampung..

Selesai sarapan serabi dan secangkir kopi, kami melanjutkan untuk pamit kepada kerabat di Bandung. Tujuan pertama adalah kakak-kakak dari isteri di daerah pasar induk Caringin. Selanjutnya menuju ke rumah paman di Soreang dan silaturahmi ke Nenek,paman dan bibi di Banjaran sebelum langsung ke Ciwidey.

Perjalanan ke Soreang harus melalui jalan yang terkenal kemacetannya yaitu jalan Kopo Sayati. Kami terjebak kemacetan semenjak persimpangan pintu gerbang tol Kopo dan Jalan Kopo Sayati.

Untuk mempersingkat waktu, kami mempergunakan jalan alternatif menuju jalan Cibaduyut seterusnya kembali ke Jalan Kopo tanpa melewati Pasar Sayati sebagai pemicu kemacetan. Jalan alternatif ini hanya cukup untuk kendaraan sepeda motor dan melewati sawah serta gang kecil

Jalur Alternatif Menuju Soreang

Kemacetan terlewati, kami ke Soreang ke rumah paman untuk silaturahmi dan sekaligus pamit. Di rumah tujuan kami disambut oleh paman, bibi dan anak mereka yang merupakan sepupu kami.

Melihat dandanan kami yang gaya touring dan Python our meggy yang bergaya touring pula, mereka menanyakan dari mana dan hendak kemana, kami jawab bahwa kami telah dari Jogjakarta dan sekarang menuju Tangerang dengan rute Ciwidey-Sukabumi. Kembali sedikit saran untuk tidak melalui jalur tersebut namun setelah diterangkan mengapa kami ingin mempergunakan jalur tersebut mereka memberikan gambaran sedikit mengenai daerah yang akan dilalui.

Sepupu kami ternyata memiliki sepeda motor modifikasi dari Vixion, mendengar kami touring ke Jogjakarta dan hendak touring kembali namun belum menetapkan tujuannya, mengajak untuk touring ke Bali sekitar bulan Oktober 2011 karena ada acara serupa biker brotherhood seperti yang dilaksanakan di Gasibu Bandung sebelumnya. Teringat tawaran teman sejawat yang sekarang menduduki salah satu jabatan penting di perwakilan Ampenan Lombok yang juga mengajak touring di daerahnya. Maka ajakan tersebut langsung diterima dan juga menawarkan untuk langsung ke Lombok, adik sepupu menyatakan siap… wuih..touring selanjutnya kayaknya lebih seru..Jawa-Bali-Lombok bulan Oktober nanti.. perlu perencanaan dan persiapan matang nich..

Selepas ngobrol dengan paman, bibi dan sepupu, kami langsung pamit untuk mampir dahulu ke Banjaran menemui nenek, paman dan bibi di daerah Banjaran.
Di Banjaran kami berkunjung ke nenek yang usianya sudah sepuh namun ingatannya masih kuat, disana kami bertemu pula dengan bibi kami.
Kami bersilaturahmi tidak lama karena hari sudah menjelang siang sedangkan perjalanan masih sangat jauh. Kami pun pamit…perjalanan etape terakhir dimulai…

Dari Banjaran kami kembali ke Soreang menuju Ciwidey. Selepas kota Soreang kami dihadapkan pada jalan beton yang mulus, namun itu tidak berlangsung lama karena jalan beton tersebut belum seluruhnya selesai ada bebarapa ruas jalan yang baru dibeton setengah lebar jalan, sehingga jalan dibagi dua arah.

Selepas jalan beton, jalanan mulai menanjak dan berkelok..kami sudah menjajal kemampuan Python our meggy dalam melahap tanjakan dan tikungan membuat kami dengan yakin melahap setiap tanjakan dan tikungan. Udara segar menerpa kami, memasuki Ciwidey banyak perkebunan strawberry yang menawarkan petik langsung di kebun. Kami sebenarnya ingin membawa strawberry karena anak kami paling kecil suka dengan buah strawberry, namun karena kami mengejar waktu untuk sampai di Tangerang tidak terlalu malam maka rencana tersebut kami urungkan. Rencana yang juga kami urungkan adalah bernostalgia pacaran di Kawah Putih dan Situ Patenggang.

Kami istirahat makan siang di daerah Kawah Putih. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju perkebunan Rancabali.

Jalanan dari Kawah Putih menuju perkebunan teh Rancabali sungguh menyenangkan, jalan mulus berkelok tajam dan tidak begitu ramai kendaraan membuat kami berdua sering kali melahap tikungan dengan menahan gas dan memiringkan Python agar kami berdua miring melahap tikungan, pegangan my lovely wife semakin kencang melingkar di pinggang sewaktu kami miring melahap tikungan….wuss..wuss…sungguh nikmat kami melaju dengan tenang.

Selepas suasanan pegunungan dengan pohon-pohon besar dipinggir jalan, kami memasuki perkebebunan teh Rancabali…jalan, pemandangan, udara, tanjakan, turunan sungguh indah dan nikmat untuk dijelajahi dengan sepeda motor berboncengan.

Kondisi jalan sangat mirip dengan perkebunan Cisompet yang kami lalui pada saat kami melakukan
perjalanan etape 2 Bandung-Pangandaran
Memasuki akhir perkebunan teh, kabut tebal menerpa kami walaupun saat itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari.

Rute Bandung-Ciwidey-Kawahputih-Rancabali menjadi salah satu rute rekomendasi dari kami apabila ingin melakukan touring dengan sepeda motor…pemandangan indah, jalanan mulus..udara segar..kelokan nikmat..banyak tempat istirahat dan tempat wisata akan membawa kenangan indah berkendara. Diperlukan kondisi biker dan kendaraan yang prima untuk menikmati perjalanan dengan rute ini karena tanjakan dan turunan yang tinggi disertai kelokan tajam.

Pemandangan indah di perkebunan teh Rancabali membuat kami harus berhenti beberapa kali untuk mengambil gambar dan tentu saja sambil berpelukan kami berdua menikmati pemandangan indah di depan mata…

Selepas perkebunan teh kami memasuki daerah hutan di perbatasan kecamatan Naringgul kabupaten Cianjur. Perjalanan dari sini akan diteruskan ke Cidaun dan Sindangbarang.

Perjalanan dari Naringgul ke Cidaun melewati hutan dengan belokan yang sangat tajam disertai jalan menurun memerlukan kelincahan pengendara untuk memadukan kemampuan melahap tikungan dengan penggunaan engine brake, namun secara keseluruhan menembus hutan Naringgul selepas Rancabali sangat mengasikan. Diakhir hutan kami melalui pemukiman penduduk, diperlukan kehati-hatian biker karena jalanan relatif sempit dan namun berkelok-berkelok.

Selepas pemukiman penduduk kami dihadapkan pada pemandangan persawahan dan pegunungan yang indah..namun sayang kondisi jalan yang tidak bagus dan banyaknya jalan berlobang serta turunan serta tanjakan curam mengurangi kenikmatan kami untuk mengagumi keindahan alam dan berkendara.

Kami mampir di sebuah warung di atas bukit dimana di warung tersebut kami dapat melihat pemandangan kebawah betapa indahnya pemandangan, sawah yang menguning disertai kelokan jalan dengan latar belakang pegunungan..sungguh tepat dinikmati ditemani segelas kopi hangat..kami pun ngobrol dengan penduduk setempat yang berada diwarung tersebut dan mengambil gambar bareng dengan salah satu penduduk di warung tersebut.
Kami tak kuasa untuk berhenti sewaktu jalan melewati sungai besar dan jernih, disertai pemandangan indah perpaduan alur sungai, jalanan yang berkelok, pegunungan dan areal persawahan..sungguh sangat sayang untuk dilewatkan..


Kami kembali melahap jalanan dimana sepanjang jalan kami harus berjuang untuk menghindari lubang, akhir dari pemandangan persawahan kami kembali memasuki hutan, jalanan melintas hutan banyak berlobang dan buruk. Setelah melalui beberap pemukiman penduduk, jalanan mulai membaik memasuki daerah Cidaun

Apabila rute Rancabali-Naringgul-Cidaun dijadikan rute touring kami sarankan agar dilaksanakan pada siang hari disebabkan jalanan yang melewati perkebunan teh yang berkabut tebal, hutan lebat dan persawahan namun dengan kondisi jalan dengan tanjakan dan turunan terjal serta mempunyai belokan tajam, namun saat itu kondisi jalan yang buruk, banyak lobang dan sepi. Apabila dilakukan pada siang hari maka kondisi jalan yang buruk dapat diimbangi dengan indahnya pemandangan yang dapat dinikmati.

Akhirnya kami menemukan petunjuk jalan di Cidaun mengenai arah ke Sindangbarang dan Cianjur ternyata jarak ke Sindangbarang masih dua puluh enam kilometer, pada saat itu waktu sudah hampir pukul empat sore.
Kami mengambil arah ke Sindangbarang lalu akan mengambil arah Sagaranten menuju Sukabumi.

Perjalanan menuju Sindangbarang menyusuri pantai, disuatu muara kami tergoda kembali untuk berhenti di jembatan yang sangat dekat dengan muara sehingga kami dapat menikmati indahnya deburan ombak pantai selatan didepan kami dan tenangnya aliran sungai dibawah kami.

Di daerah Cidaun hal yang perlu diperhatikan selain jalanan yang berlubang juga angkutan kayu yang mempergunakan sepeda motor dimana kelihatannya memerlukan kehati-hatian yang tinggi saat mereka berbelok karena harus menjaga keseimbangan dan sepertinya kondisi sepeda motor yang pas-pasan
dengan kualitas rem yang sepertinya meragukan, mengharuskan kami harus extra hati-hati bila berpapasan atau melewati mereka.

Kondisi jalan antara Cidaun hingga Sindang barang relatif bagus di beberapa ruas jalan sepertinya baru selesai perbaikan, namun masih banyak ruas jalan yang bergelombang dan berlobang besar. Jalanan relatif lurus dan merata serta tidak begitu banyak belokan dimana disebelah kiri kami terlihat pantai.

Diakhir perjalanan menyusuri jalan Sindangbarang, kami melihat petunjuk arah ada wisata pantai 650 meter lagi pantai tersebut adalah pantai Apra.

Kamipun berbelok kearah pantai Apra, melalui jalan perumahan, kami akhirnya sampai di pintu gerbang pantai tersebut. Terlihat bahwa gerbang tersebut sudah lama tidak terawat dan tidak ada penjaganya, kami meneruskan perjalanan ke pantai.

Pantai Apra ternyata sangat sepi saat itu, menurut kami pantainya indah namun kurang terawat, ada beberapa warung yang buka dekat pantai. Kuarahkan Python our meggy ke sebuah warung yang paling menjorok ke pantai. Di warung tersebut beberapa penduduk sedang ngobrol dan ada yang sedang membetulkan jala ikan, setelah permisi kepada mereka dan memesan kopi kami pun kembali bernostalgia berpacaran, sayang cuaca agak mendung sehingga matahari terbenam terhalang oleh awan, namun hal itu tidak mengurangi kami untuk menikmati suasana pantai dengan deburan ombak pada senja hari.

Setelah kami puas menikmati senja pantai Apra di Sindangbarang Cianjur Selatan, kamipun bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum mulai melakukan perjalanan, sehubungan magrib telah lewat dan kami masih ada di Sindangbarang, kami berunding apakah tetap memakai arah Sukabumi dengan konsekwensi perjalananan kemungkinan lebih lama karena jarak yang lebih jauh dan kondisi jalan yang belum diketahui atau mempergunakan jalur kota Cianjur dengan konsekwensi akan menembus kembali dinginnya udara di daerah Cipanas Puncak Bogor.

Akhirnya setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk merubah jalur menjadi melalui kota Cianjur-Cipanas-Puncak-Bogor-Parung-Serpong

Bandung-Soreang-Banjaran-Ciwidey-Kawah Putih-Cidaun-Sindang Barang-Cibeber-Cianjur-Puncak Bogor-Parung-Serpong

Kami langsung berangkat dan mengambil arah kota Cianjur, perjalanan kali ini kami lalui dengan jalanan yang bagus..namun selepas Sindangbarang kami kembali harus menapaki jalan berlobang bahkan ada beberapa ruas jalan yang telah kehilangan aspalnya.

Kami meneruskan perjalanan kami tanpa berhenti, hujan mulai turun saat kami melewati perkebunan teh Sukanegara. Kami berhenti untuk ke toilet umum di SPBU sekitar daerah Cibeber.

Memasuki kota Cianjur kami mulai mencari makanan untuk mengisi perut dan persiapan untuk menembus dinginya malam di daerah Puncak.

Akhirnya kami mampir di penjual goreng ayam kampung sebelum tanjakan Cugenang sekaligus beristirahat. Waktu telah menunjukkan lewat jam sepuluh malam.

Selesai istirahat makan, kami sepakat untuk tidak berhenti di daerah Puncak, untuk mengurangi dinginnya malam, sengaja my lovely wife memakai jaket hujan sebagai tambahan. Kami meluncur ke arah puncak, saat itu lalulintas dari dan ke Puncak ramai.

Memasuki daerah puncak, udara dingin mulai menerpa kami, diriku beberapa kali menggigil menahan dingin, akhirnya selepas puncak pass diriku menyerah, Python kupinggirkan ke sebuah warung kopi, dan setelah menanyakan terlebih dahulu harganya kupesan segelas kopi panas untuk menghangatkan diriku.

Kopi panas yang berasa adem saat itu tandas dalam waktu yang tidak terlalu lama, langsung kugeber Python untuk kembali melintas daerah puncak. Melewati Puncak mendekati daerah Ciawi, dibeberapa ruas jalan ada perbaikan yang menyita sebagian jalan, sehingga arus lalulintas mengalami kemacetan dan harus mempergunakan sistem buka tutup arus lalulintas kendaraan.

Pada saat itu banyak rombongan sepeda motor yang menuju arah puncak dan adapula beberapa rombongan sepeda motor yang bergerak kearah Ciawi.

Diriku berupaya secepatnya sampai di Bogor, selain agar terlepas dari udara yang begitu dingin juga panggilan alam untuk ke toilet umum.

Didaerah Bogor Jl. Sudirman, kami mampir di sebuah SPBU untuk menyelesaikan panggilan alam. di SPBU tersebut kami bertemu dengan beberapa biker yang dari logonya adalah group A**c biker dengan motor maticnya namun menurut kami tidak asik tuh group, terkesan ada keangkuhan sewaktu istriku memberitahu kepada salah satu biker A**c bahwa toilet bekasnya tidak dibersihkan kembali, ia dengan tanpa basa-basi meninggalkan kami. Akhirnya istriku tidak jadi menjawab panggilan alam di SPBU tersebut karena jijik dengan toilet yang kotor bekas salah seorang A**c biker yang sekali lagi sangat tidak asik. Apakah komunitas A**c bikers tersebut mengetahui bahwa semua yang ada embel-embel umum seperti jalan umum dan toilet umum adalah sarana bersama dan harus menghargai pengguna lainnya?

Diriku tadinya hendak mengejar rombongoan A**c biker dan mengingatkan perihal kelakukan salah satu anggotanya, namun diingatkan oleh my lovely wife bahwa ia masih perlu menuntaskan panggilan alamnya namun di SPBU lainnya, akhirnya kami mencari SPBU lainnya.

Selesai menuntaskan panggilan alam, kami kembali melanjutkan perjalanan pulang melalui daerah Parung, Puspitek, dan Serpong.

Pukul dua pagi kami sampai di depan kompleks perumahan kami, mengambil gambar sejenak lalu menuju rumah.

Diriku melihat angka digital pada odometer menunjukkan angka 3.741, berarti kami telah mengendarai Python our meggy sejauh 1.909 km semenjak kami memulai perjalanan Tangerang-Jogjakarta pp dengan kilometer awal pada odometer adalah 1.832

1900 kilometer yang ditempuh telah membawa kami ke 19 tahun yang lalu dimana kami memulai pendekatan, dan berpacaran.. masa-masa itu kami sering keluar kota sekitar Bandung berduaan mempergunakan sepeda motor. Perjalanan inipun membawa kami pada kenangan indah tahun-tahun pertama menikah.

Perjalananan ini menurut kami telah sesuai dengan rencana dan tujuan kami yaitu mengulangi berpacaran dengan sepeda motor berboncengan, mengunjungi kerabat sekaligus romatisme di tempat indah.. wow..very great experiences and very sweet adventures

Akhirnya Python our meggy parkir di garasi, kami membereskan barang bawaan kami dan cuci muka serta sekedar membersihkan badan..setelah itu…kami berdua terbaring ditempat tidur dan menuntaskan romantisme malam itu..

Istriku sayang I love you very much..masih ingatkah tawaran sepupu di Bandung mengenai touring bareng ke Bali dan diteruskan ke Lombok pada bulan Oktober tahun ini..?

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: